Tuesday, 30 April 2013

Perlukah perayaan Hari Kartini bagi anak anak?



Sepintas, di dalam pertanyaan tersebut sudah tersirat jawabannya.  Kenyataan yang ada di lapanganlah yang membuat jawaban tersirat dalam pertanyaan tersebut menjadi tersurat. Ya, sebagian besar TK  dan SD yang ada tampaknya hingga saat ini masih menyelenggarakannya dan merupakan bagian tradisi yang sangat panjang sejak puluhan tahun lalu. Namun, marilah kita coba telisik lebih jauh apa sebenarnya latar belakang para penyelenggara peringatan hari kartini sehingga menjadikan tradisi tersebut sesuatu yang urgen sehingga hampir tidak pernah  ditinggalkan tiap tahunnya. Di sisi lain kita coba sisakan ruang untuk mengintip alasan  mereka yang menganggapnya sama sekali tidak penting atau paling tidak, tidak begitu penting sehingga mereka tidak menyelenggarakannya.

Untuk membahas hal ini, tampaknya kita harus melakukan segmentasi bagi para penyelenggara menjadi dua segmen, yaitu sekolah umum dan sekolah  islam.

Sekolah Umum. Bagi segmen ini, penyelanggaraan peringatan hari kartini seolah merupakan bagian dari “jiwa” mereka sehingga apabila tidak diselenggarakan, seolah ada sesuatu yang terciderai dalam “jiwa” mereka. Anak - anak  mendapat  hiburan dengan adanya berbagai tampilan busana adat dan aneka lomba. Ini merupakan hiburan yang lain dari yang lain dibandingkan kegiatan harian mereka. Memang, ada juga unsur pendidikannya yaitu dengan memperkenalkan sejarah RA Kartini sebagai pahlawan nasional yang merupakan sosok yang harus diteladani. Dan memang itu sudah sesuai dengan posisi dan misi mereka sebagai sekolah umum yang tentunya memiliki ciri yang tidak sama dengan sekolah islam. Kita patut menghargai hal itu.

Sekolah Islam.Sebenarnya segmen inipun masih perlu penajaman menjadi dua yaitu Sekolah Islam yang dalam kesehariannya tidak mewajibkan busana muslimah dan Sekolah Islam yang kesehariannya mewajibkan busana muslimah. Bagi Sekolah Islam yang dalam kesehariannya tidak mewajibkan busana muslimah penyelenggaraan peringatan hari kartini biasanya hampir sama dengan Sekolah umum dimana anak-anak diperkenalkan sosok RA.Kartini sebagai sosok pahlawan yang patut diteladani disertai dengan peragaan busana tradisional dan aneka lomba .
Nah, pada segman Sekolah Islam yang dalam keseharian mewajibkan busana muslim inilah ada banyak hal yang menarik untuk dicermati dan dikritisi.

Ada yang berpendapat bahwa peringatan hari kartini tidak merupakan hal yang urgen untuk dilakukan. Mereka lebih menekankan pada peringatan peringatan yang langsung terkait dengan sejarah islam seperti peringatan Maulud Nabi, Isra Mi'raj dan lain-lain. Apalagi sosok RA Kartini sendiri merupakan sosok wanita yang tidak menggunakan jilbab dimana hal ini tidak sesuai dengan misi mereka yang melatih anak didik untuk mengenakan busana muslimah sejak dini. Mereka melihat pada peringatan hari kartini  lebih menonjolkan aspek “nasionalis” dan tidak terkait aspek religi yang menjadi spirit dalam penyelenggaraan pindidikan mereka.

Disisi lain, sebagian dari kelompok Sekolah  islam yang muridnya berbusana muslimah  dalam keseharian ini, menyelenggarakan peringatan hari kartini namun dalam spirit dan misi yang tidak jelas. Hal ini terlihat dalam penyelenggaraannya, dimana hampir tidak ada perbedaan sama sekali dengan segmen yang pertama di atas yaitu segmen Sekolah  Umum. Keseharian bebusana muslimah yang telah biasa diterapkan kepada anak didik, justru “dicampakkan” pada peringatan tersebut.Alasan klise yang dilontarkan adalah bahwa mereka khawatir kalau terlalu saklek akan berdampak kurang baik, seperti anggapan terlalu ekstrim, terlalu kaku, dan tidak sesuai dengan kelaziman yang ada di kebanyakan sekolah. Dan ujungnya kehawatiran jika nantinya Sekolah nya akan ditinggalkan oleh ibu ibu. Apalagi sosok RA Kartini sendiri merupakan sosok perempuan dengan busana khas jawa yang berkebaya dan berkonde,maka dalam pelaksanaan perayaannya pun kurang lebih harus mendekati sosok tersebut….dan seterusnya.

Kami, selaku pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak, sekaligus sebagai aktivis dakwah berusaha memberikan pandangan sekaligus kritik yang membangun kepada dua sisi pandangan tersebut apalagi mengingat para penyelenggara  Sekolah  Islam  yang keseharian muridnya mengenakan busana muslimah adalah mayoritas para muslimah aktivis dakwah.

Kita harus mengingat kembali dan berusaha mengaplikasikannya paling tidak dua hal prinsip mengenai jati diri para aktivis dakwah. Yang pertama, Nahnu duat qobla kulli syai .  Kita ini adalah para dai dan daiyah, sebelum segala sesuatu. Dalam status apapun, dalam kondisi apapun peran inilah yang harus selalu melekat dalam jiwa kita. Jangan sampai ada aktivitas  yang tidak ada muatan dakwah di dalamnya. Yang kedua, kita adalah Anashirut Taghyir, Agent of Change, bukan Agent of Nothing. Agen Perubahan, bukan Agen Kepasrahan. Dalam benak kita harus senantiasa melekat, perubahan apa yang dapat kita lakukan untuk menuju yang lebih baik,dalam hal apapun. Jangan cepat menyerah dengan kenyataan yang ada, dengan kelaziman yang ada selama masih mungkin untuk diperbaiki.

Kalau kita menyadari dua jati diri tersebut kemudian memahami bahwa hakekat pendidikan anak  adalah bagaimana menciptakan kondisi yang kondusif bagi terselenggaranya pendidikan dengan melibatkan orang tua dan menjadikan keterkaitan serta keserasian hubungan orang tua-guru-dan murid menjadi faktor kunci bagi keberhasilan pendidikan, maka pada peringatan hari kartinipun akan dapat kita kreasikan dan kita arahkan menjadi suatu rangkaian acara peringatan yang bermanfaat, yang mengandung muatan pendidikan sekaligus mengandung muatan dakwah bukan hanya bagi anak anak tapi juga bagi orang tua mereka.

Kenapa kita harus mengikuti kelaziman bahwa peringatan hari kartini identik dengan pemakaian kebayaan-sich dan dengan nothing to lose kita anggap biasa untuk sementara melepas jilbab mereka meski hanya untuk sehari. Ditambah dengan berbagai aksesori yang, maaf, mungkin terlalu berlebihan bi seorang anak, tanpa ada penjelasan yang jelas kepada orang tua murid. Bisa jadi ada satu dua diantara mereka yang terheran heran, “lho,kok bu guru khusus untuk hari kartini mengijinkan anakku melepas jilbab,ya ??”.  “Lho kok, aku diijinkan mendandani anakku berlebihan seperti ini, ya??” “Bukankah ibu guru mencontohkan dalam keseharian mereka tidak biasa  berdandan berlebihan (red:menor)??” Pertanyaan ini akan muncul dan selalu muncul paling tidak setahun sekali. Pertanyaan yang selalu tetap menjadi pertanyaan karena sang guru gagal memberikan jawaban yang tuntas dan memuaskan. Pertanyaan yang akan selalu menjadi pertanyaan karena sang guru, yang sekaligus sebagai aktivis dakwah gagal atau belum berhasil memerankan diri mereka sebagai Agent of Change yang mencerdaskan masyarakat dan memberi pencerahan.

Sebenarnya masalahnya tidak terlalu rumit. Pemahaman yang benar akan hakekat dakwah, keluasan wawasan akan pengetahuan keislaman dan kesadaran yang mendalam akan fungsi diri mereka sebagai Anashirut Taghyir akan menjadi kunci keberhasilan dalam menjadikan peringatan hari kartini bukan sekedar peringatan seremonial tanpa makna. Event ini bahkan bisa menjadi event yang sarat makna bahkan sarat muatan dakwah.

Dengan konsistensi kita memegang jati diri sebagai daiyah akan memudahkan langkah kita untuk menentukan kebijakan tanpa ada pertanyaan atau penolakan yang berarti dari orang tua murid. Tanpa penjelasan panjang lebar pun, mereka akan percaya pada setiap program yang kita gulirkan karena mereka yakin setiap program yang kita gulirkan akan memberikan manfaat bagi anak mereka. Apalagi disertai dengan penjelasan penjelasan yang lebih mencerahkan dan mencerdaskan. Justru di sinilah fungsi anashirut taghyir akan berjalan.

Tidak ada masalah dengan berbagai ragam baju adat yang ada termasuk kebaya yang merupakan primadona pada setiap peringatan hari kartini. Namun pemakaian jilbab  yang merupakan identitas khas keseharian bagi Sekolah Islam juga sebaiknya jangan ditinggalkan. Justru kalau mau jujur dan obyektif,pemakaian busana adat disertai pemakaian jilbab akan tampak lebih cantik dan anggun dibandingkan pemakaian busana adat yang dikombinasikan dengan  berbagai aksesoris yang berlebihan. Orang tua murid akan dengan senang hati menjalankannya tanpa ada pertanyaan yang mengganjal, tanpa ada penolakan, bahkan bisa juga menumbuhkan keharuan dan kebanggan dalam hati mereka……."Subhanallah,betapa anggun dan cantiknya anakku. Betapa bahagianya aku bila mengalami masa kecilku sebagaimana yang dialami oleh anakku.” Semua itu hanya bisa terealisir jika kita menggenggam prinsip Nahnu Duat Qobla Kulli Syai. Dan kita jalankan fungsi Anashirut Taghyir,  Agen Perubahan. Sebaliknya, ungkapan bahagia dan haru dari orang tua murid tadi hanya akan menjadi mimpi belaka jika kita hanya berfungsi sebagai Agen Kepasrahan,…. bukan Agen  perubahan.

Pendikotomian peringatan hari besar agama islam dan hari besar nasional, termasuk hari kartini  dengan pemikiran bahwa muatan nasionalisnya lebih dominan daripada islaminya hanya akan menyempitkan kiprah kita dalam syiar islam. Lupakah kita bahwa seorang nasionalis bisa sekaligus seorang islamis. Lalu apakah seorang islamis tidak mungkin menjadi nasionalis???

Bahkan proses pencarian hidayah yang ditempuh RA Kartini yang kemudian pada puncak prosesnya lahir kumpulan surat surat habis gelap terbitlah terang merupakan proses pencarian jati diri yang paripurna, bukan hanya aspek pencarian jati diri seorang perempuan saja, tapi juga  peningkatan dan penyempurnaan aspek spiritualnya.

Nah, kenyataan seperti inilah yang apabila kita selipkan pada acara Hari Kartini kemudian kita sampaikan kepada orang tua murid dengan ilustrasi sebuah ungkapan sederhana, “Bu, seandainya Ibu Kartini Allah takdirkan tidak wafat secepat dan semuda itu, mungkin beliau juga akan menggunakan jilbab, bu. Beliau akan tampak lebih cantik dan anggun secantik dan seanggun putri ibu."

Dan Alhamdulillah, jika semua kondisi ideal atau paling tidak mendekati ideal yang tergambar diatas, dimana hari kartini terselenggara tanpa harus menanggalkan identitas islami dan dalam waktu bersamaan muatan dakwahpun sampai kepada orang tua murid, apalagi acara dikemas dengan cukup menarik dan kreatif maka terjawablah pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Ya, peringatan hari kartini… perlu untuk diadakan .

Syahidah Peduli

0 comments:

Post a Comment