Wednesday, 1 May 2013

Travelling @ Pari Island Part I



Dengan niat untuk sejenak melepas penat keseharian, kami memilih lokasi wisata dan jatuhlah pilihan untuk ke suatu pantai. Kami memilih Pulau Pari karena teman Ibu,  Mas Erwin sebagai Tour Guide di pulau tersebut. Tepat16 November 2012 ba'da Subuh saya, Bapak, dan Ibu dengan taksi segera menuju Pelabuhan Tanjung Priuk. Ketika taksi sudah mulai memasuki wilayah Muara Angke. Bau menyengat mengiringi perjalanan kami masuk ke pelabuhan. Sampah ikan busuk ditambah air got yang mampet dan bau ikan asin sangat menganggu pernafasan kami sampai ke paru - paru, kami menahan mual dengan menutup hidung rapat-rapat. Sungguh, kami terkaget-kaget dengan kondisi ini, niat kami untuk berwisata agak menyurut, tetapi sudah kepalang tanggung karena kami sudah hampir sampai pelabuhan. Dari informasi yang kami dapat dari supir taksi, bahwa lain kali kalau mau ke Kepulauan Seribu sebaiknya melalui Marina Ancol saja dengan speed boat. Memang lebih mahal tetapi lebih nyaman dan lebih memuaskan. Ya begitulah ada harga, ada barang. Ini tidak kami antisipasi sebelumnya, karena informasi ini tidak masuk kepada kami.

Sampailah kami di meeting point yang sudah di informasikan oleh Tour Guide yaitu di SPBU Muara Angke. Ternyata bersama kami banyak sekali yang akan berangkat ke Pulau Pari tentunya mayoritas para wisatawan lokal dan minoritas wisatawan asing yang memilih wisata murah. Sebelum menuju kapal, Bapak meminta saya menemani beliau ke toilet. Antrian panjang di depan toilet membuat kami enggan sebenarnya, tapi apa boleh buat, hajat manusiawi harus segera ditunaikan. Sampai di dalam toilet ternyata Bapak tidak mendapatkan air untuk istinja. Saya segera membeli air mineral di warung terdekat dengan sebelumnya ijin ke orang yang ada di belakang saya untuk menjaga antrian saya sekaligus minta untuk pesan berantai tentang sikon toilet kepada orang yang ada dalam antrian, saya sangat menyayangkan orang - orang yang sebelumnya di depan saya tidak menginfokan, bahwa tidak ada air di toilet. Segera saya menyodorkan air mineral kepada Bapak, dan setelah selesai segera bergegas kumpul dengan rombongan. Lain waktu sebaiknya tuntaskan dulu sebelum sampai pelabuhan, karena setelah itupun ketika saya mengantar keponakan ke toilet di kapalpun sangat tidak nyaman. Karena terpaksa, maka para bocah membuang hajat sambil meringis ketakutan.

Setelah rombongan keluarga kami lengkap ada 11 orang. Kami menuju kapal dengan melewati jalan yang licin, becek dan bau. Saran saya gunakan sepatu atau sandal yang tidak licin dan kuat. Sebelum menaiki kapal sebaiknya cukup perbekalan snack dan air mineral, mengingat perjalanan cukup lama yaitu 2 jam. Apalagi kami membawa serta 4 anak - anak, para bunda sudah mengantisipasi juga p3k dan aneka games.
Jangan bayangkan kapal pesiar untuk menuju Pulau Pari ini, karena wisata yang di tawarkan kepada kami ini adalah wisata murah dan memang cocoknya buat para back packer. Kami memang tidak menyangka kondisinya seperti ini. Di dalam kapal kayu tua ( mungkin usianya lebih tua dari usia saya ), kami berdempet - dempet seperti ikan sarden. Persis seperti imigran gelap yang akan minta suaka politik ke negara lain ketimbang wisatawan. Untung kami mendapat tempat di dekat jendela bukan di tengah, sehingga anak - anak bisa sedikit mengusir kejenuhan dengan sesekali melihat suasana di luar kapal. Untuk keamanan penumpang, telah disediakan life jacket lusuh yang nampaknya jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang ada. Saran saya kalau memilih wisata ke pulau ala back packer ini,  bawalah life jacket sendiri untuk antisipasi. Hehehe sampai sekarang setiap ingat hal ini saya selalu tersenyum geli, biarlah jadi kenangan lucu.

Setelah menunggu 2 jam, kapal perlahan - lahan bergerak. Ahamdulillah......rupanya harus menunggu kapal ini benar - benar penuh atas bawah. Ya, kapal ini memang bertingkat dan atasnya ditutup dengan terpal sederhana. Sebenarnya kami sangat khawatir terutama terhadap anak - anak yang awalnya ceria mau berwisata sampai senyumpun hilang dari mereka, rupanya kelelahan menunggu. Biarlah ini menjadi pengalaman berharga dan mengambil hikmahnya saja. Sesekali tidak apalah kami mengalami kondisi prihatin saat berwisata. Lain kali Insya Allah, kami akan ke pulau lainnya di Kepulauan Seribu dengan speed boat saja dari Marina Ancol.Bismillaahi tawakkaltu 'alallaahi laa haula wa laa quwwata illaa billaah dan doa naik kendaraan lautpun mengalir dari bibir - bibir kami,  yang menjadi perhatian orang lain. Berharap sih mereka mengikuti.

Awal perjalanan kami disambut oleh  pemandangan yang memprihatinkan. Perairan ini seperti tempat sampah besar berwarna hitam pekat karena campuran limbah oli dan berbagai macam jenis sampah. Kami sampai iseng menyebutkan apa saja sampah yang dibuang orang - orang, eh itu bungkus ini, bungkus itu ( menyebut merk - merk kemasan minuman dan makanan ). Sampai celana dalam pun kami lihat mengambang di perairan. Astaghfirullaah.....joroknya masyarakat ini. Sangat memalukan, bayangkan ini adalah salah satu akses turis - turis asing yang ingin wisata ke Kepulauan Seribu, karena bersama kamipun ada beberapa turis asing. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka tentang karakter bangsa ini. Sungguh, sebagai pendidik masih banyak pekerjaan rumah saya dalam membangun karakter anak bangsa termasuk karakter ramah lingkungan.
Semakin kapal menjauh, air laut semakin baik. Semakin biru. 

Sudah tidak tampak lagi pelabuhan dari pandangan kami, hanya air laut biru, ombak terjang menerjang beserta gugusan pulau - pulau beserta burung - burung yang bertasbih sebagaimana lisan dan hati kamipun senantiasa berdzikir.Subhanallah.....indahnya alam ciptaan Allah, sayang sekali tangan - tangan jahil telah merusak sebagian alam yang merupakan amanah bagi kita para khalifah fil ardhi

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya dan bedoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang - orang yang berbuat baik."  (Al A'raf:56)

Sebelum sampai di Pulau Pari, sebagian penumpang turun di Pulau Untung Jawa. Tadinya kami mengira sudah sampai, tapi ternyata kami harus lebih bersabar lagi untuk dapat menikmati Pulau Pari yang kabarnya pantainya masih lebih bersih dibandingkan pantai lainnya. Dan memang demikianlah, kenyataan telah di depan mata, setelah perahu kami mendarat.Pemandangan Pulau Pari yang bersih dan pantainya yang landai, tanpa gelombang, tidak begitu ramai dan bebas polusi seolah - olah menyambut kami dengan senyumnya yang paling manis. Alhamdulillah, akhirnya kami dapat melepas penat, setelah 2 jam berada di dalam kapal pengap.
Semua bawaan kami diangkut dengan gerobak oleh petugas dari home stay, sambil menunggu kami bergaya dulu dengan berbagai pose di tempat - tempat yang akan menjadi kenangan bagi kami, terutama di patung ikan Pari besar bertuliskan Selamat Datang di Pulau Pari. Setelah yakin semua barang terangkut, kami mengikuti gerobak menuju home stay yang tidak jauh dari Pelabuhan Pulau Pari.
Welcome drink segar segera kami teguk Bismillaah.... isinya rumput laut hasil olahan warga dan sirup merah.Hmmmm segaaaar. Alhamdulillah.

Kami ber 11 masuk ke dalam home stay dengan 3 ruang tidur dan 2 kamar mandi, tujuan utamanya adalah sejenak melepas lelah, bersih diri, sholat dan makan siang tentu saja dengan menu serba ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Yummy....doa mau makan dari mulut bocah - bocah mengalir dengan bangga. Alhamdulillah keponakanku sholeh sholehah, walaupun masih SD kelas rendah tapi mereka sholat tanpa disuruh, bahkan ketika menjadi musafirpun.


Destinasi pertama kami adalah Pantai LIPI. Untuk menuju ke sana kami mengayuh sepeda yang disediakan oleh pemilik home stay. Sepanjang jalan nampak berbagai macam home stay dengan variasi harga sesuai dengan fasilitas. Tentunya home stay yang ber ac, dengan sepeda - sepeda mini merk ternama dan kelihatan masih kinclong, harga sewanya akan berbeda dengan fasilitas seadanya. Semua tergantung kocek dan kebutuhan kita. Selama perjalanan kami juga berpas - pasan dengan pengendara sepeda lain.Semua bertukar senyum dan tawa, semua senang dalam suasana desa pesisir yang panas tapi sejuk. Di Pantai LIPI kami tidak berlama -lama bermain air dan berfoto ria karena kondisi masih lelah. Kami kembali lagi ke home stay pada sore hari untuk beristirahat. Masing - masing dengan kegiatannya ada yang nonton tv, upload photo, ngobrol, leyeh - leyeh dan saya ngumpet di kamar. Keluarga maklum karena mereka sudah terbiasa mendengar saya mengaji. Sebaiknya memang, dimanapun kita berada tetap menjaga target ibadah yaumiyyah. Insya Allah kita berlindung dari sifat riya dan sum' ah. Dan ini kita niatkan pula sebagai syiar dakwah kepada keluarga kita.
(bersambung)

0 comments:

Post a Comment