Friday, 9 August 2013

(Bukan) saatnya kita menunduk

Seribu wajah sejuta makna. Hampir setiap ekspresi memiliki arti. Terkadang ekspresi yang dinyatakan tidak hanya melibatkan wajah, tapi juga anggota badan yang lain seperti pundak, tangan, dll. Setiap ekspresi merupakan pantulan dari kondisi jiwa yang dialami, entah sedih, kecewa, gembira, dsb. Bahkan saking menariknya masalah ekspresi ini, dijadikan sebagai salah satu Topik Acara  di salah satu media yang pembahasannya melibatkan pakar berbagai disiplin ilmu.
Seorang akrobatik yang melewati tambang di ketinggian, merupakan pantangan baginya untuk menundukkan kepala. Namun lain halnya dengan seorang yang sedang di puncak keputusasaannya, menundukkan kepala bisa jadi adalah langkah awal untuk segera mengakhiri hidupnya, melompat menuju jurang yang dalam……. na`udzubillahi mindzalik.
Menundukkan kepala tidak senantiasa bermakna negatif. Tidak selalu bermakna putus asa, tidak selalu berarti meratap dan bersedih. Ketika suasana gundah sedang melanda, ketika prahara dirasa tiada henti menimpa, ketika langkah kaki mulai terasa agak limbung untuk terus melangkah, ketika tsiqoh mulai agak sedikit tergerus…… saat itulah kita harus menunduk.
Menunduk untuk merekap ulang, apa sesungguhnya yang telah kita perbuat selama ini untuk dakwah dan jamaah ini. Sudah maksimalkah waktu, tenaga dan pikiran yang kita curahkan? atau kita hanya mencurahkannya di sisa waktu kita ?
Menunduk untuk menata ulang, seberapa lurus hati dan lisan yang selalu menyertai amaliyah kita. Tidak sadarkah kita bahwa terkadang ada saudara kita yang tersakiti karena ulah lisan kita? Atau saudara kita yang terlanggar kehormatannya karena ulah hati kita, suuzhon kita? Tidak sadarkah kita, ketidakmampuan kita mengendalikan lisan kita, bisa melahirkan ghibah-ghibah lain yang berkepanjangan..  Tidak pahamkah bahwa ini semua menjadi penyebab terkikisnya keindahan ukhuwah diantara kita? Lalu, dimana semboyan yang selalu kita gaungkan… Innamal mukminuuna ikhwah…????
Menunduk untuk mengukur diri, seberapa kokohkah diri kita dalam menghadapi badai yang seolah tiada henti ini? Seberapa tegarkah kita saat mendengar berbagai cacian, gunjingan dan fitnah tanpa harus menutup rapat telinga kita? Dan kita pun harus mempersiapkan diri, bahwa badai pasti berlalu…. adalah benar. Namun, bukan berarti tidak akan menghadang badai badai yang lainnya, yang gelombang badainya bisa jadi memang sengaja diciptakan.
Menunduk untuk bermunajat agar dipulihkan lagi langkah kaki yang mulai agak goyah, ketetapan hati yang mulai berubah, yang dialami sebagian saudara saudara kita. Moga mereka diberikan kesadaran bahwa ini adalah bagian dari resiko perjuangan. Para pelaku tentu bukan hanya mengecap manisnya perjuangan, pahitnya pun adalah keniscayaan. Moga saudara kita menyadari  bahwa pemicu ujian dan permasalahan bisa jadi datang atau didatangkan dari luar. Namun bisa jadi juga karena kelalaian yang datang dari dalam. Sehingga membuat kita senantiasa lebih berhati-hati dan selalu bermuhasabah diri. Namun tentu kita tidak ingin hanya jadi penonton dan pengamat. Karena penonton dan pengamat hanya bisa bersorak, mencemooh atau mengkritik pedas. Dan agar saudara saudara kita menyadari bahwa ini adalah jamaah manusia,  bukan jamaah malaikat. “Walaa tahinuu walaa tahzanuu waantumul a`launa inkuntum mu`miniin ” Dan janganlah kamu merasa rendah (hina) dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah yang lebih tinggi derajadnya, jika kamu benar - benar orang beriman. (Ali Imran: 139). Janganlah menjauh disaat diri ini melemah… Langkah kita akan tertinggal ketika jamaah semakin kuat. Buang jauh galau dan sedih.  Saatnya kita bangkit.
Menunduk untuk berdoa agar saudara-saudara kita yang ada dalam bahtera -bahtera perjuangan  yang lain mulai menyadari sikap-sikap mereka yang tidak jarang, sering memojokkan kita, entah karena kesalahpahaman atau karena kedengkian. Ingat !!! salah satu pihak yang menghambat bahtera perjuangan ini adalah golongan Muslim………. Muslim pendengki. Kesalahan yang mungkin terlanjur diperbuat sebagain dari kita seolah menjadi santapan lezat pembicaraan sebagian mereka……. Moga merekapun menyadari bahwa kita tidaklah seperti yang mereka duga. Kemanfaatan dan kebaikan yang telah coba kita tebarkan insya Allah masih jauh lebih banyak dari kesalahan yang mungkin telah dilakukan oleh sebagian kita. Kita tidak perlu berkoar untuk mengklaim semua ini. Tapi masyarakatlah yang bisa menilainya……… Dan moga merekapun tersadar, bahwa kualitas diri, loyalitas diri, sesungguhnya hanya akan terlihat, justru di saat-saat krusial, bukan usual. Bukankah tampak terang benderang di salah satu negeri Muslim, betapa pengkhianatan tampak nyata dilakukan sebagian Nahkoda Bahtera Muslim Lain yang menjilat ludahnya sendiri, yang menghapus tulisan tinta perjanjiannya sendiri yang belum kering, yang menarik tangannya ketika baiatnya masih hangat….kepada Presidennya Yang Sah, demi kepentingan politik dan kekuasaan bergandengan tangan dengan para Munafiqun……… Moga saudara - saudara kitapun tidak teracuni dengan pepatah sebab nila setitik rusak susu sebelanga. Karena pepatah ini memang hanya pantas berlaku pada nila dan susu.
Menunduk untuk berharap agar masyarakat diberikan kejernihan dalam menilai suatu permasalahan. Tidak termakan oleh setiap pemberitaan yang menyudutkan. Berharap Agar masyarakat mampu menilai, siapa-siapa pihak yang benar-benar tulus dan tiada henti membela dan memperjuangkan mereka meski dalam keadaan diterpa badai sekalipun. Karena sejatinya mereka yang mampu berbuat banyak dalam kondisi lapang, bukanlah sesuatu yang istimewa. Namun, mereka yang tetap berbuat banyak dikala kesulitan, dikala kesempitan, itulah sumbangsih yang tak ternilai harganya.
Menunduk untuk bermunajat dan senantiasa berharap agar para qiyadah senantiasa istiqomah dan menjaga amanah, karena sejatinya kita memang harus punya akses ke mereka. Bukan akses untuk bersu`uzhon kepada mereka, bukan akses untuk menguliti kesalahan kesalahan mereka. Bukan akses untuk meneropong kehidupan pribadi mereka. Karena semua ini hanya akan melelahkan jiwa kita, hanya akan menggerus keutamaan amaliyah kita yang telah sekian lama kita sahamkan.
Menunduk untuk bermunajat dengan sepenuh jiwa, agar Allah meneguhkan saudara-saudara kita yang tengah berjuang menegakkan yang haq..… di salah satu negeri Anbiya….. atas kezhaliman para penzhalim kepada Presiden mereka yang sah…Presiden yang sangat mereka cintai.. Presiden mereka yang rendah hati..Presiden mereka yang sederhana… Presiden mereka yang Hafizh Qur`an.. Presiden mereka yang Ahlush Shiyam… Presiden mereka yang Ahlul Qiyam. Allah menjadi saksi, bahwa air mata ini mengalir mengingat ketulusan mereka, kesungguhan mereka… jihad mereka.. meski kepala harus tercerai berai karenanya…meski dada harus menganga karenanya… Allah menjadi saksi, bahwa jiwa ini bergetar mengingat keteguhan mereka kepada perjuangan… jiwa inipun bergetar mengingat keyakinan mereka akan janji dan pertolongan Allah………. Alaa inna nashrallaahi qariib.
Namun……….. ada saatnya kita  mendongak, bukan karena congkak !
Ketika media secara membabi buta berkonspirasi melalui pemberitaannya yang sangat tendensius, tidak berimbang dan bombastis, tiada tempat dan waktu lagi untuk menunduk. Kita harus mendongak..kita harus melawan. Melawan dengan segenap kemampuan yang ada pada diri kita masing-masing. Mungkin jumlah kita, media yang kita miliki,tidaklah sebesar yang mereka miliki.  Namun ini adalah keniscayaan sejarah.. Keniscayaan akidah.
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki ……” ( Petikan,sebagian dari terjemah QS Al Anfal:60)
Bukan saatnya menunduk… ketika kita temui individu-individu yang memang disiapkan dan mengemban misi untuk terus mencoba menjatuhkan kita, lewat lisan mereka atau tulisan mereka. Kitapun harus melawan mereka lewat hujjah dan tulisan-tulisan kita.
Namun di penghujungnya..kita harus kembali menunduk..mengembalikan semua urusan ini kepada sang pemilik segala urusan.. Allah `Azza Wajalla.
“Wallaahu ghaalibun `alaa amrihi. Walaakinna aktsarannaasi laa ya`lamuun"
Jangan menjauh di saat diri melemah…. Kita akan tertinggal langkah ketika jamaah semakin menguat. Buang jauh galau dan sedih. Saatnya kita bangkit..
Ahlan wasahlan Yaa Ramadhan…. Ramadhan Syahrul Jihad…..  Allahu Akbar !!!
Syahidah Peduli

0 comments:

Post a Comment