Friday, 9 August 2013

Yang menguasai dan yang terkuasai

Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Siapa yang lemah, dialah yang akan tertindas. Ungkapan tersebut tampaknya berlaku universal. Kita lihat ketika sang raja rimba mengendap endap siap menerkam seekor kijang. Maka ia akan relative mudah jika sang kijang memisahkan diri dari rombongannya. Dalam tempo tak terlalu lama, perburuan akan tuntas dengan terhidangnya santapan yang lezat. Dan lihatlah pula, ketika kijang masih bersama kelompoknya, maka sang penguasa hutan terkadang harus menunggu seharian meski lapar tak bisa diajak kompromi lagi.
Pengaruh mempengaruhi, kuasa menguasai akan terjadi silih berganti. Suatu waktu bisa sang penguasa akan menjadi pihak yang terkuasai, demikian juga sebaliknya. Masih segar dalam ingatan kita, dalam beberapa pekan media infotainment dipenuhi dengan pemberitaan sosok eyang SBR yang dari pemberitaan itu dapat kita simpulkan bahwa dalam kurun waktu yang relative lama , dia mampu menjadi penguasa, yang menguasai orang banyak, mengandalkan ilmu linuwihnya, mengandalkan kharismanya, demikianlah paling tidak menurut sebagian orang. Namun tak lama kemudian kitapun dikejutkan dengan sesosok figure AW yang dalam kurun waktu lama terkuasai oleh Eyang SBR, muncul menjadi sosok yang mengejutkan, yang bahkan oleh sebagian orang disebut fenomenal.
Dengan gayanya yang khas, dengan ekspresinya yang lepas, dengan amarahnya yang terkesan tak waras, sempat menyedot banyak pasang mata kepadanya. Yang sebelumnya dia bukanlah siapa - siapa, menjadi siapa - siapa. Kepalan tangan dan gebrakan mejanya ketika marah menjadi branding tersendiri bagi dia. Maka pada saat itu dia benar - benar menjadi pihak yang berkuasa, yang mampu menguasai banyak pihak. Pihak siapa saja yang terkuasai??? Pertama adalah media, tentunya fenomena semacam ini tentu akan menjadi berita dengan rating yang tinggi.  Kedua, Eyang SBR sendiri. Setelah sebelumnya dalam kurun waktu lama AW mungkin menjadi pihak yang terkuasai,terkuasai oleh Eyang SBR, maka berbaliklah sekarang menjadi pihak yang menguasai, menguasai Eyang SBR. Ketiga, pihak - pihak yang mungkin menilainya sebagai sosok unik yang dapat dijadikan model sehingga muncullah berbagai kreasi “gila” yang dikaitkan dengannya.
Sedikit ke belakang ingatan kita kepada sosok perempuan yang sempat membius sebagian orang, dan khususnya kaum perempuan tentunya, dengan perjuangan gigihnya maju dalam kompetisi politik si sebuah peropinsi. Dia sempat mencoba menjadi seribu wajahdengan kadang berpenampilan seperti biasanya, kadang memakai kerudung ketika coba menguasai kaum ibu - ibu atau daerah yang dianggapnya religious. Dengan ekspresinya yang terkesan gigih dari awal kompetisi, mampu membawanya mendapatkan suara yang lumayan signifikan meski akhirnya kalah. Kegigihan perjuangannya membawa sengketa pilkada ke Mahkamah Konstitusi sempat menguasai opini sebagian masyarakat.
Dari kedua contoh tersebut dapat ditarik benang merah bahwa sesuatu yang mungkin awalnya relative biasa saja,atau mungkin tidak begitu diperhitungkan, atau bahkan sama sekali belum pernah terdengar, tiba - tiba bisa menjadi sosok fenomenal yang menguasai banyak pihak, banyak hal. Paling tidak ada dua hal yang mereka miliki pada saat itu. Yang pertama, adanya karakter yang kuat/khas yang mereka miliki. Seandainya cara AW mengekspresikan amarahnya adalah wajar - wajar saja, tanpa meletup - letup, tanpa gebrakan meja yang menggebu, bisa jadi ceritanya akan lain. Media tidak akan begitu menempel dia dalam setiap pemberitaannya. Orang - orang tidak akan mendekatinya dengan berbagai kontrak bisnis hiburan. Demikianpun yang terjadi pada  sosok perempuan petarung pilkada di atas. Jika tidak tampak kegigihannya ditengah petarung lain yang nota bene kaum laki - laki, mungkin dia tidak akan dianggap. Jika tidak dia tunjukkan kedekatannya dengan orang kecil, kereligiusannya ketika memakai kerudung untuk mengambil hati komunitas muslim, bisa jadi lebih tidak dianggap lagi.
Yang kedua, adanya momentum. Sering kita mendengar perkataan,” Ah, sekarang momentumnya belum tepat.” atau perkataan,” Jangan sia-siakan momentum ini, kita akan kehilangan peluang.”…dst,dst. AW sangat diuntungkan dengan momentum. Dan bisa jadi apa yang dia lakukan memang adalah dalam rangka memanfaatkan momentum, bukan murni semata adanya dendam pribadi kepada Eyang SBR. Dan jika ini benar, dia termasuk orang yang pandai memanfaatkan momentum. Momentum ketika salah seorang artis tenar terlebih dulu memulai menyerang Eyang SBR yang tentunya akan menjadikan AW tidak perlu butuh waktu tidak lama untuk menggoreng kasus ini. Momentum lainnya, ketika dalam ranah politik sedang digodoknya rancangan Undang undang seputar santet, yang tentu akan semakin memojokkan posisi Eyang SBR.
Demikianpun sosok politisi perempuan di atas. Dia mencoba memanfaatkan beberapa momentum. Momentum ketenaran sorang gubernur dia adopsi dengan memakai baju serupa yang dikenakan gubernur serta meniru pendekatan kampanyenya. Momentum isu - isu miring bernada fitnah yang dihembuskan beberapa media tentang incumbent dia manfaatkan dengan menggandeng praktisi anti korupsi dan menjadikan anti korupsi sebagai jargon utama kampanyenya.
Kedua hal di atas, tampaknya perlu jadi bahan renungan kita bersama, berkarakter yang kuat/ khas dan kejelian memanfaatkan momentum. Amanah - amanah dakwah yang dibebankan kepada kita sangatlah beragam. Beragam objek dakwahnya, beragam kadar bebannya, beragam tantangannya, beragam target dan tujuannya. Karakter dakwah yang biasa kita bawa untuk sebuah kondisi belum tentu akan efektif diterapkan untuk kondisi lainnya yang lebih luas. Apalagi untuk kondisi yang kadar bebannya, tantangan maupun targetnya lebih berat. Cara - cara yang yang sudah biasa kita terapkan masih perlu dilengkapi dengan cara - cara lainnya yang mungkin terkadang membutuhkan pembelajaran yang cepat, keberanian bahkan sedikit kenekatan. Mungkin di sini akan berlaku istilah…karakter yang biasa, dibutuhkan untuk situasi biasa…..karakter yang kuat/khas dibutuhkan untuk situasi yang tidak biasa ( beban, tantangan dan target yang lebih berat dan lebih luas).     
Memanfaatkan momentum. Potensi dakwah yang dimiliki para aktivis dakwah termasuk akhwat di dalamnya sangatlah beragam. Namun potensi tersebut tidak jarang masih ada yang tertidur, tidak mengemuka, dikarenakan banyak factor. Seperti kurang percaya diri, minimnya keteladanan,dan belum ada pihak yang mencoba membangkitkan potensi tersebut dengan memberi contoh dan membangkitkan semangat. Dengan coba memanfaatkan momentum dakwah tertentu, seperti momentum jihad siyasi, dimana ketika beban yang lebih berat dihadapi, dimana ketika kekompakan, kerapian  dan variasi kerja lebih dibutuhkan, maka potensi yang tertidur tersebut bisa dibangunkan. Dengan membangunkan potensi - potensi tertidur tersebut akan membawa banyak keberkahan. Bagi dirinya sendiri, dengan potensinya yang tidak tertidur lagi, akan lebih bergairah untuk berkiprah dalam dakwah dengan cara yang lebih beragam dan akan menularkan kepada aktivis yang lain agar terbangun dari ketertidurannya juga, bagi jamaah akan mendapat lebih lagi dari sumbangan kiprah ataupun pemikirannya ,  bagi orang lain akan lebih banyak mendapat kemanfaatan darinya.
Marilah kita terjemahkan dalam diri kita masing – masing, konteks berkarakter kuat / khas tersebut dan kejelian memanfaatkan momentum agar kita dapat memaksimalkan peran kita dalam dakwah. Semoga kita semua  menjadi aktivis dakwah yang menguasai, bukan terkuasai.
syahidah peduli

0 comments:

Post a Comment