Friday, 9 August 2013

Duhai Ayah Bunda, sabarlah dalam mendidik anak-anak usia dini...

Tingkah polah anak -anak usia dini ada - ada saja setiap harinya, apalagi anak dengan tipe aktif. Kita larang malah dikerjakan, dimarahin malah melawan, senangnya teriak teriak, panjat sana sini, belum lagi perilaku tantrumnya yang terkadang membuat kita malu, pusing, emosi sampai di "ujung tanduk."
Kalau sudah begitu biasanya para orang tua menuruti saja apa maunya si anak. Apalagi kalau sudah menangis, menjerit,  berguling - guling. Menyerahlah kita dengan "senjata" ampuh bernama tangisan. Yang penting anak diam dan tenang. Padahal dengan selalu menuruti apa kemauan anak bukanlah perbuatan yang mendidik.
Psikolog Ruth.A.Peters, Ph.D, mengatakan, " Saat kita menyerah pada permintaan dan tuntutan anak, maka kita berpotensi menciptakan tiran cilik yang menguasai segalanya."
Sebagai orang tua dan pendidik kita harus mengetahui kapan harus mengalah dan kapan harus berbuat tegas. Tegas disini tidak harus marah - marah apalagi sampai memukul, menjewer, mencubit dan hal - hal yang kurang mendidik lainnya. Hal ini malah akan membuat si anak dendam dan sakit hati. Jangan heran kalau setelah kaki tangannya cukup kuat si anak akan membalas pukulan orang tuanya. Beberapa  kasus kita jumpai di media, bagaimana seorang anak mencederai fisik orangtuanya yang sudah tua yang harusnya diayomi dan disayang. Tanpa disadari ada orang tua yang "menanam " saham yang kurang baik dalam mendidik anaknya. Siapa menanam, dia memetik, kata peribahasa.
Kalau anak sudah melanggar kesepakatan peraturan yang sudah dibuat bersama lengkap dengan reward dan punisment, maka ketegasan disini diperlukan. Misalkan waktunya tidur siang tidak mau, habis main harusnya dirapihkan malah ditinggal begitu saja dan hal lainnya yang terkadang membuat orang tua kesal. Perlu kesabaran tinggi dan strategi cerdik menghadapi mereka, misalkan ketika mereka belum bertanggungjawab dengan mainannya kita dapat mengajak anak bermain balapan atau siapa yang paling cepat membereskan mendapat stiker, ketika dia tidak mau tidur siang tanyakan dulu alasannya dan tetap buat settingan suasana tidur siang di rumah.
Janganlah orang tua ikut emosi karena kalau kita mengedepankan emosi akan sangat berpengaruh pada perkembangan kecerdasan emosi anak. Dia akan menjadi pribadi yang tidak stabil, percaya dirinya rendah, bahkan akan mengalami kesulitan membentuk konsep diri positif dan tentunya kelak dewasa akan merugikan dirinya karena keberhasilan seringkali banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi.
Penelitian neurologi telah mengemukakan, bahwa ucapan yang tidak bermutu, teriakan, bentakan akan mencederai batang otak anak sehingga akan mengalami pembengkakan yang akan menekan sistem limbik dimana sistem ini sangat berperan dalam mengendalikan emosi.
Alangkah sedihnya kita jika lambat laun anak kita rentan dalam mengendalikan emosinya. Bahkan sampai beranjak dewasa cenderung temperamental, paranoid atau kekhawatiran berlebihan dan banyak lagi perilaku penyimpangan emosi.
Masa kritis anak usia 0-6 tahun memang harus kita ketahui bersama agar kita dapat lebih memahami dan melalui tahapan perkembangan ini dengan bijaksana sehingga anak dapat melalui tahapan ini dengan normal.
1.Masa egosentris, pada usia ini anak sangat berpusat pada dirnya sendiri,  ingin menang sendiri, ingin selalu menonjol. Kalau kita memahami dengan baik sesungguhnya inilah cika bakal dari tumbuhnya identitas diri. Sebagai orang tua kita bisa arahkan dia dengan mengajaknya terlibat dalam membuat aturan dan kesepakatan bersama, dengan hal ini dia merasa dipercaya oleh orang tuanya.
2.Masa menentang, karena egonya sedang kuat maka pada umumnya diikuti pula dengan sikap melawan, menentang, mengamuk. Kalau kita keras dan emosi menghadapinya, maka tumbuhlah anak dengan karakter keras kepala.Penentangan ini sesungguhnya adalah cara dia memancing perhatian kita. Tetaplah pasang wajah setenang mungkin atau stabil,  atur nafas sambil terus ber dzikir beristighfar agar kita lebih sabar, kita katakan juga pada anak, "sabar....sayang...sabar anak sholeh... , " jangan terpancing emosi dengan menasehatinya panjang lebar karena biasanya akan diselingi pula dengan omelan dan sumpah serapah tentu saja ini tidak akan effektif, jadi abaikanlah dulu jika kita yakin anak dalam kondisi atau tempat yang aman, beri waktu dia untuk menguasai dan mengelola emosinya, sementara itu kita bisa berwudhu agar lebih tenang. Setelah anak kelihatan lebih tenang, barulah kita peluk cium dan ungkapkan kalimat sayang kepadanya dan mengungkapkan, bahwa Ayah Bunda tidak suka dengan perilaku tersebut karena sabar dalam mensikapi sesuatu lebih utama dan buatlah kesepakatan kembali.
3. Masa imitasi, masa ini anak sebagai peniru ulung. Mereka akan meniru semua ucapan dan perilaku orang - orang dewasa di sekitarnya. Karena itu tantangan bagi kita para pendidik untuk istiqomah mencontohkan perilaku dan ucapan yang bermutu di manapun berada, sekalipun tidak sedang bersama anak - anak kita. Jangan sampai di depan anak kita menjaga mutu, tapi di belakang anak kita berbicara dan berperilaku yang kurang pantas sebagai pendidik.
Semoga kita selalu diberikan kesabaran dalam mendidik anak - anak kita yang telah Allah amanahkan untuk dijaga dalam segala aspeknya.
Kesabaran memang perlu latihan terus menerus dan kesabaran dalam mendidik anak adalah salah satu bentuk syukur kita terhadap amanah anak yang telah Allah titipkan kepada kita. Seandainya semua anak bangsa ini ada dalam pola asuh orang tua dan pendidik yang sabar, niscaya akan baiklah negeri ini, " Sesungguhnya pada yang demikian itu benar - benar terdapat tanda - tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur." (QS 31:31)
syahidah peduli

0 comments:

Post a Comment