Friday, 9 August 2013

Pendar kejora itu masih ada

by: Mardiati
Kapal besar ini memang sedang dilanda ujian. Berjalan limbung ditengah amukan gelombang pasang. Kadang sebagian penghuni kapal harus terpekik ngeri pada dahsyatnya hantaman badai. kadang hati kelu ditepian asa yang mulai surut tersandung prahara.
Namun satu hal yang meneguhkan para awak kapal untuk terus bertahan. Bahwa ini semua hanyalah sebuah ujian. Ujian yang pasti menimpa semua makhluk bernyawa, sendiri ataupun jamak. Sebuah episode kehidupan yang harus dilalui, untuk meraih cita-cita perjuangan.
Selalu ada pendar asa ditengah carut marutnya badai prahara. Seperti kejadian pekan lalu, saat harus turun lapangan untuk mengumpulkan data kuesioner terkait Pilwalkot Tangerang dan eksistensi PKS, yang dikoordinir oleh pengurus DPC PKS Larangan.
Kebetulan saya kebagian survey di lingkungan Jl Saoh, Cipadu. Seperti biasa, kekurangan SDM membuat para kader harus bergerak sendiri-sendiri door to door ke rumah warga. Berbekal pena dan kertas kuesioner, saya pun siap beraksi. Mengetuk dari satu pintu ke pintu, dan meminta ijin sang tuan rumah, yang kebetulan kebanyakan ibu-ibu rumah tangga, agar berkenan meluangkan waktunya untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah disiapkan.
Biasanya saya menggunakan jurus rayuan, dengan mengatakan hanya perlu 2 menit untuk menjawab pertanyaan saya. Para ibu-ibu pun luluh dan mempersilahkan saya masuk. Walau kadang, karena keasikan curhat, para ibu-ibu tersebut malah menghabiskan waktu lebih dari 10 menit.
Tapi ada yang berbeda kali ini, ada cerita menarik dipenghujung survey saya hari itu. Ketika sedang sedikit bingung harus memilih lurus atau belok kanan, saya melihat diujung gang sempit yang sedang saya lalui, seorang ibu tengah mencuci piring dibaskom besar luar rumahnya. Tak berpikir panjang saya pun mendekati sang ibu dengan hati riang. Memintanya meluangkan waktu sebentar untuk meladeni pertanyaan saya.
Tapi, si ibu malah menawarkan saya untuk masuk kedalam, jarinya menunjuk pada sebuah kain, yang terlihat menutupi lorong gang. Rupanya tadi saya luput memperhatikan adanya tirai tersebut.
Sang ibu mengatakan, lebih baik saya bertanya langsung ke ibu-ibu yang kebetulan sedang kumpul memasak untuk sebuah acara sunatan. Ibu itu menambahkan, bahwa didalam terdapat juga ibu lurah dan ibu RT.
Awalnya, saya sempat ragu dan tak enak hati. Apalagi ketika tabir dibuka, dan tampaklah sekelompok ibu-ibu yang seketika menghentikan sebentar aktifitas mereka, karena melihat kehadiran saya dari balik tabir.
Jujur saya sedikit grogi terperangkap dalam sorotan pandangan mereka. Pertama, lintasan pikir saya, adalah saya ibarat seekor domba disarang macan. Seperti kata Sujiwo Tejo dalam sebuah program TV, bahwa teman-teman PKS sedang berhadapan dengan The Power of Ibu-ibu. Dan ini bukan isapan jempol. Dalam hampir di banyak kesempatan bertemu ibu-ibu, pastilah isu yang sedang merundung PKS saat ini, menjadi bahan pembicaraan mereka. Inilah poin yang membuat mereka tidak lagi bersimpati pada PKS, walau untungnya para ibu-ibu itu menyampaikannya dengan nada sopan dan kadang meminta maaf atas kejujuran ungkapan hati mereka. Dan saya cukup lapang dada menerima keluhan tersebut.
Dan pada hari itu, saya harus menghadapi beberapa ibu-ibu sekaligus, dimana didalamnya ada bu lurah, bu RT dll. Dalam bayangan saya, bila satu ibu-ibu saja sudah cukup repot menghadapi sinisme mereka. Apalagi bila dikeroyok banyak ibu-ibu, duh..
Tapi, bukan kader PKS namanya bila tak berkuat hati. Dengan ramah saya mencoba menyapa ibu-ibu, dan memohon ijin untuk mengganggu aktifitas mereka sejenak. Alhamdulillah mereka pun welcome dan mempersilahkan saya bergabung.
Ada 3 orang yang menjadi fokus survey saya, yakni bu lurah yang sedang memasak, dan ibu yang punya rumah, serta seorang ibu lagi, yang baru saya tahu belakangan bahwa ia seorang dokter.
Tepat, seperti dugaan saya, reaksi ibu-ibu ini cukup ramai terkait isu yang menimpa PKS yang mereka pantau dari media tv. Walau mereka mengakui bahwa kader PKS yang selama ini mereka kenal adalah sosok-sosok yang baik. Saya mencoba menimpali ocehan mereka dengan sedikit candaan, agar suasana tak terlalu tegang. Kadang saya coba alihkan pembahasan ke topik lain yang membuat ibu-ibu tertawa dan santai kembali. Dan bila mereka kembali membahas isu awal, saya coba untuk diam mendengarkan celotehan mereka. Mencoba menjadi pendengar yang baik, membuat mereka jadi lebih simpatik.
Diakhir pembicaraan, saya cukup senang karena ternyata ending-nya tak begitu se-menyeramkan seperti dalam lintasan pikir saya. Para ibu-ibu itu malah menawarkan saya mencicipi masakan mereka, walau terpaksa saya tolak secara halus.
Namun, sebelum saya berdiri dan berpamitan, seorang ibu yang adalah seorang dokter, menarik tangan saya untuk duduk kembali. Saya pun menurutinya. Ternyata si ibu bermaksud menyampaikan isi hatinya, yang tadi belum sempat terlontarkan karena memberi kesempatan pada ibu-ibu yang lain berkomentar lebih dahulu.
Ibu tersebut menyatakan dukungannya pada kader-kader PKS. Beliau mengatakan bahwa isu-isu negatif yang sedang hangat diberitakan saat ini, hanyalah setitik noda, yang akan segera berlalu, seperti lazimnya yang terjadi di negeri ini. Jangan sampai kader PKS berkecil hati lalu bubar jalan. Beliau percaya sepenuhnya, bahwa ditangan kader-kader PKS-lah nasib bangsa ini akan lebih baik. Asalkan para kader PKS tetap membaur dengan masyarakat, tetap melayani masyarakat, tetap berperilaku baik yang menjadi tauladan dilingkungannya. Lama-lama kepercayaan dan simpati masyarakat akan beralih kembali ke PKS. Beliau bahkan memberikan trik-trik agar PKS dapat kembali memenangkan hati publik. Walau trik yang diberikan sebenarnya bukan hal baru dan sudah dilaksanakan oleh kader-kader PKS sejak lama. Tapi saya hanya diam, tidak mencoba menyela atau berkomentar. Saya hanya mendengarkan dengan takzim pemaparan beliau.
Kenapa saya diam? Karena saya terharu melihat antusiasme sang ibu. Saya merasa hanyut dalam ketulusannya. Ada suntikan semangat yang bertebaran dari tiap kata yang keluar dari mulutnya. Ada pendar asa yang terbias dari tajam tatapannya.
Dan saya sadar, kadang kita membutuhkan orang-orang seperti mereka, yang tak patah keyakinan saat kita tertimpa masalah. Yang tak lantas meninggalkan saat kita didera cobaan. Pada orang-orang seperti mereka-lah ruh perjuangan kita kembali bangkit, setelah sempat goyah sesaat.
Bahwa kita tidak sendirian. Bahwa mereka masih ada disana. Berdiri tegak dibelakang, terus memompakan semangat kita digarda depan. Dan menyambut kita kala mengalami kekalahan dan kelelahan. Seperti kasih seorang ibu kepada anak-anaknya yang tengah berjuang. Seperti keyakinan seorang ibu pada anaknya, yang tak pernah goyah meski lentera mulai padam.
Atas nama kepercayaan tulus mereka, kita akan tetap bertahan. Terus berjuang hingga cita-cita terwujud. Allahu Akbar!

0 comments:

Post a Comment