Friday, 9 August 2013

Tanpa judul

Siuman dari  pingsan, terseok-seok aku merangkak dalam pekatnya malam. Dalam dinginnya kelam. Kala makin menipisnya asa…. kucoba meraba dan membuka rangsel, berharap menemukan lampu senter yang selalu setia menemani di setiap perjalanan. Ada secercah harapan… namun ketika kucoba menyalakannya….ternyata senter itu tak lagi penuh cahanya. Dengan senter sebagai penunjuk jalan, kucoba terus merangkak menuju sebuah pohon besar dengan harapan bisa bersandar disitu. Ahhh….sedikit lega meski dengan susah payah, akhirnya tersandarlah punggungku di pohon itu. Dengan asa yang tetap kujaga, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya sempurna, kucoba mengingat kembali, apa sesungguhnya yang telah terjadi……. Astaghfirullaahal `azhiim….sebuah kata, ungkapan zikir, yang barangkali aku sendiri tak yakin, apakah aku pernah melafalkannya, di setiap kesempatanku, disetiap acara pesta poraku,di setiap hura - huraku…..namun kini,,,tak kuasa lagi aku membisikkannya…hingga meneteslah airmata ini….Dimana Rina..dimana Yanti…dimana Dirly?... Rupanya kami terpisah satu sama lain, tanpa saling mengetahui nasib kami… di ketinggian hutan sebuah pegunungan. Kucoba merogoh rangsel untuk mengambil cermin lalu kusorot wajahku…Astaghfirullaahal `azhiim…semakin deraslah air mataku ketika kulihat bibirku yang jontor, pipi kananku yang sedikit robek dan dahiku yang agak membiru. Terasa seperti ada yang menyedot tenagaku sehingga akupun  lunglai. Sesaat kemudian anganku melayang… menuju kenangan indah ketika menjuarai sebuah festival kecantikan. Ahh..betapa cantiknya paras ini..betapa sempurnanya diriku…Tepuk riuh memenuhi ruangan..ribuan sorot mata menatap kagum ketika kuangkat trophi itu….
Tapi kini…saat ini…bibir, pipi,dahiku….di tengah keputusasaan yang hampir saja menghinggapi, aku harus terus merangkak, sampai kutemukan titik terang, sampai kutemukan harapan, karena tidak mungkin  terus berdiam diri sementara kondisi fisik terus melemah apalagi persediaan makanan juga menipis. Satu dua rangkakan terus kucoba. Waktupun terus berjalan. Tanpa terasa, entah sudah berapa jauh jengkal tanah yang terinjak,tiba - tiba tanpa kusadari akupun tergelincir menuju turunan tanah yang dalam dan curam. Serasa copot jantung ini, ketika tangan yang kupakai menopang rangkakanku, menapak tempat kosong yang tak lain adalah titik awal dari ketergelinciranku. Sejurus kemudian, aku sendiri tak yakin apa yang sedang aku rasakan….Seakan dunia ini berputar- putar. Hentakan demi hentakan terus aku rasakan seiring dengan berputar dan bergulingnya tubuhku meluncur menuju ke bawah…. tak lagi bisa membayangkan..andaikan aku bercermin, entah seperti apa wujud ini.
Allah…Allah…tanpa terasa lidah melafazhkan Asma Allah, sebuah asma yang Agung yang telah sekian lama  terlupakan. Antara sadar dan tak sadar bibir ini sempat bermunajat…ya Allah, seandainya ini adalah takdir untuk menjemput ajal….ijinkanlah ya Allah, hambaMu ini untuk bertaubat atas semua dosa dan kelalian yang selama ini hamba lakukan…..meski mungkin  hanya tinggal hitungan detik atau menit lagi hamba hidup……berikanlah kesempatan…terimalah taubatku ya Allah.
Dalam beberapa hentakan kemudian.. aku merasakan dan mendengar suara  grekkkbukk...serasa ada yang mencekik leher,dan menarik pundakku kuat - kuat… tak ingat lagi apa yang selanjutnya terjadi…perlahan..dunia ini serasa berputar - putar di kepala….dan akupun mengatupkan mata, kemudian tertunduk pingsan….
Entah berapa lama aku pingsan..Perlahan tapi pasti….sayup sayup terdengar suara menyeru… “kak,ayolah,kak,jangan berputus asa dari rahmat Allah” “ Kakak harus segera ambil keputusan……………”
Ketika tersadar sambil menjerit kusebut nama itu…” Dewiiiiiiiiiiii…..” Tak terasa meneteslah air mata ini sembari kusebut nama itu…Dewi, adikku. Kucoba tengok kiri - kanan, bawah…..sambil menyorotkan senter, kurasakan dan coba memahami apa sebenarnya yang telah terjadi…Astaghfirullaahal `azhiim…. rupanya tubuh lemah ini tergantung pada beberapa cabang dari sebuah pohon, yang ketika aku terjatuh menggelinding ,tampaknya tali temali rangselku sempat menyangkut disitu….Sesaat kemudian,kucoba lebih memahami lagi posisi…dan ..Masya Allah…….aku tergantung seperti posisi penerjun payung yang tersangkut di pepohonan…sementara di posisi bawah…adalah air sungai yang mengalir deras……
Aku mencoba untuk lebih menenangkan diri, kuatur napasku..kucoba pertajam pandanganku..setahap demi setahap mencoba berpikir ,apa seharusnya yang harus di lakukan….Waktu terus berjalan,kondisi fisikku makin melemah…tapi aku belum menemukan jawaban….Haruskah terus bergelantungan tanpa ada kepastian..tanpa ada harapan pertolongan ??? Hingga saatnya napas ini tinggal satu - satu…??? Atau…..ahhh…ketika hampir di titik nadzir keputusasaanku, aku teringat akan suara bisikan itu…bisikan adikku..Dewi.” “Kak,ayolah,kak,kakak jangan berpututs asa dari rahmat Allah.” Kakak harus segera ambil keputusan..”..Lalu,apa arti dari bisikan Dewi itu, yang seolah menyuruh melakukan sesuatu…..Sejenak..diantara aktivitas otak yang mencoba terus berpikir….tanpa terasa..air mata menetes membasahi pipi… teringat akan sosok adikku yang sungguh sangat amat aku sayangi…..Dewi. Dalam waktu sekitar satu dua menit kusempatkan mengenang kepribadiannya…seorang perempuan sholehah yang sejujurnya sangat aku kagumi..tapi entah karena kekerasan hatiku, atau kecintaanku yang keterlaluan kepada dunia ini..aku belum merengkuh hidayah sebagaimana yang ia dapatkan..Seorang adik yang senantiasa tak pernah bosan menasehati kakaknya dalam kebaikan, tanpa pernah ada kesan menggurui.. Seorang adik yang hampir tidak pernah keluar dari mulutnya, kecuali ungkapan kebaikan atau ungkapan yang bermakna. Seorang perempuan sholehah yang dimana kaki ia pijak,senantiasa menebar manfaat bagi banyak orang….Seorang yang kehadirannya senantiasa dinantikan orang, dan kepergiannya selalu dirindukan. Setelah sempat sedikit tersenyum mengenang semua itu,,kuseka air mataku. Kucoba kembali memahami perintahnya dalam bisikan itu…..” “Kakak harus segera ambil keputusan.”. Ya, mulailah aku tersadar….aku harus ambil keputusan…tetap bergelantungan disini…menunggu ajal..atau meloncat kebawah dengan resiko terbawa arus yang deras…..ahh, sungguh pilihan yang sangat berat dan sangat tidak mengenakkan. Namun dalam hati kecilku,,,aku sangat yakin….ketika sosok Dewi adikku hadir dalam situasi yang sangat darurat dalam hidupku, meski hanya lewat “bisikannya”, aku yakin,,semoga itu pertanda sebuah harapan bagiku…Tanpa menunggu waktu lama lagi, aku mengambil pisau dan secara perlahan dan bergiliran, semua tali dalam rangselku yang menyangkut di cabang pepohonan itu aku potong. Satu demi satu tali temali itu terputus..…sembari kuatur napasku,kutata nyaliku…sambil sesekali menengok ke bawah,membayangkan tak lama lagi akan terseret derasnya arus sungai…….tapi hanya inilah satu - satunya harapan..dan….bismillahirrohmaanirrohiim…Allaaaaaaaaaaaaahu Akbar………………………aku terjun bebas menuju derasnya air sungai…..
Byuurrrrr…….suara bak sebuah dentuman masih sempat aku dengar….namun selebihnya yang terasa hanyalah berputarnya dunia ini, terombang ambingnya tubuh ini oleh arus deras sungai yang meluncur tiada henti. Diantara sadar dan tak sadar jiwa ini masih sempat merasakan secercah kebahagiaan…kebahagiaan bahwa dipenghujung usia,masih sempat mendengar bisikan penuh makna dari adikku tercinta, Dewi…………..secercah kebahagiaan dan keyakinan  bahwa Allah akan menerima taubatku dan melapangkan tempatku di akherat kelak……….Beberapa saat kemudian, deras sungai semakin terasa kencang, dan tiba - tiba……..whuuuzzzzzzzzz….tubuh ini seperti terlempar …dan meski tampak samar - samar,masih sempat terlihat…..bersama derasnya air terjun bak Air Terjun Niagara dari ketinggian, tubuh ini meluncur dan bersiap untuk menuju luluh lantaknya tulang - belulangku, jauh dibawah sana…………….namun  tiba - tiba………
Allaah…Dewiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……..kurasakan seperti ada pergerakan dalam sukmaku….”Dewiiiii jangan tinggalkan kakaaaak.. Ya Allaaaaaaaah……….ampunilah akuuu……….” Meski samar,kurasakan sebuah tamparan kecil di pipiku sambil mengucap….” Kakak, istighfar,kak,,ini Dewi…..baca taawudz, dan segeralah kakak berusaha untuk bangun.” Begitu mataku terbuka, kupeluk erat - erat adik yang sangat aku sayangi….perlahan,sembari kurasakan mata yang berkaca - kaca,kucoba memahami apa sebenarnya yang terjadi…kutatap wajah cantik nan anggun adikku…kulihat sekelililingku….ahh…rupanya…… aku baru saja bermimpi…Sebuah impian yang sangat menguras energy, impian yang memicu cucuran keringatku……..Adikku langsung memelukku dengan penuh kasih sayang, seolah tak akan melepaskannya, layaknya seperti kasih sayang seorang kakak kepada adik yang dicintainya……………………………
Waktu terus berjalan sejak aku bermimpi waktu itu…. Sungguh…..betapa mahalnya arti sebuah hidayah. Dan betapa malangnya siapapun yang tidak berusaha untuk mendekati dan berusaha menggapainya. Aku sangat bersyukur, saat ini, aku sedang berada dalam  sebuah lingkaran . Lingkaran yang di dalamnya duduk penuh tawadhu` , orang - orang yang sedang menyimak taujih penuh ma`na dari seorang ustadzah. Seorang Ustadzah yang apabila aku coba cari sisi - sisi kekurangannya, seolah aku tak akan menemukannya. Ya, beliau tidak lain adalah Dewi…… adik kandungku. Subhanallah, tidak pernah aku dengar sesuatu keluar dari mulutnya kecuali ungkapan - ungkapan yang mulia. Tidak pernah aku menghadiri majelis rutin pekanannya kecuali selalu bercampur aduk seribu perasaan dalam jiwaku. Perasaan bangga, perasaan haru,bahagia bercampur aduk jadi satu. Ingin rasanya jiwa ini senantiasa berdekatan dengan adikku agar damai selalu bersemayam,mengusir gundah yang kadang menghampiri. Dan satu hal lagi, meski ada sedikit rasa iri, tapi akupun harus redlo.  Dia telah terlebih dahulu dikaruniakan seorang suami, seorang ustadz yang sholeh dan dua anak yang sholeh sholehah. Dia memang pantas mendapatkan semua itu. Karena dia memang jauh lebih baik dariku.
Sampai suatu ketika, ada semacam anjuran agar aku segera dipindahkan ke lingkaran baru yang lain, supaya ada penyegaran. Namun dengan permohonan yang tulus dan sungguh - sungguh dariku, aku meminta agar aku jangan dipindahkan dulu, paling tidak dalam dua bulan kedepan. Sungguh terlalu berat buatku harus berpisah dengan adikku dalam setiap majelis yang dibimbingnya.
Dahulu, dimasa jahiliyahku,sebenarnya akupun juga memiliki agenda bersama rekan - rekan dalam bentuk duduk membentuk sebuah lingkaran….. Namun lingkaran itu, dipenuhi dengan obrolan - obrolan yang tidak bermakna, berbeda dengan lingkaran ini, yang sarat dengan nasehat - nasehat nan hakiki. Lingkaran itu, dipenuhi oleh orang - orang yang berbau arak dan minuman keras. Di sini,lingkaran ini, dipenuhi orang - orang yang berbau kesturi, yang senantiasa menjaga shaum sunnahnya. Dahulu Lingkaran itu, diisi oleh orang - orang yang tidak menjaga auratnya. Sedangkanlingkaran ini, terdiri dari mereka - mereka yang menjaga kesucian dirinya. Pesta lingkaran itu, adalah pesta untuk memenuhi hawa nafsu duniawi. Adapun  lingkaran ini, adalah untuk mendidik jiwa agar mentaati Tuhannya. Bahkan lingkaran itumembuat mereka tidak sadar hingga berada di tepi jurang neraka. Sebaliknya lingkaran ini, membuat kami makin sadar untuk bersegera berlomba menggapai pintu surga.
Saat ini,aku sedang merenung, mencoba menyelami semua yang telah aku alami selama ini. Dan tentunya, termasuk impianku waktu itu. Subhanallah, banyak sekali kenangan, hikmah ataupun pelajaran yang aku dapatkan.
Betapa sangat dekatnya diri kita dengan sebab - sebab kematian, bahkan dengan kematian itu sendiri. Sungguh amat bodoh manusia itu, yang dilalaikan dan dilenakan oleh kesenangan duniawi yang sementara dan sangat menipu ini. Dia tidak menyadari, bahwa setiap saat jiwanya bisa melayang, sedangkan dia belum membawa bekal apa - apa, kecuali hanya sedikit……….” Bermegah - megahan telah melalaikan kamu.Sampai kamu masuk ke liang kubur. Janganlah begitu. Kelak kamu akan mengetahui.” ( QS At Takatsur : 1-3)
Sungguh, betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba - hambaNya. Allah akan senantiasa membuka lebar pintu Rahmat dan AmpunanNya bagi siapa saja yang bertobat kepadaNya, meski dia datang dengan dosa setinggi gunung, seluas samudera, bahkan dosa sepenuh langit dan bumi. “ Katakanlah, wahai hamba - hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa - dosa semua.Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az Zumar : 53)”
Betapa mahalnya waktu yang telah Allah karuniakan kepada kita, sampai - sampai Allah sendiri bersumpah dalam firmannya “ Wal `Ashr”  …..” Demi Masa”. Celakalah mereka - mereka yang menyia - nyiakannya. Dan beruntunglah kita yang mengisinya dengan penuh penghambaan kepadaNya.  “Dari Ibnu Abbas , dia berkata bahwa telah bersabda Rasulullah,seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara, sebelum datang lima perkara lainnya , jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu sebelum sempit,dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian, (Mustadrok Hakim).”
Terlalu banyak rahasia Ilahi yang mengiringi kehidupan ini. Bahkan kehadirannyapun bisa datang darisebuah impian. Aku telah mendapat banyak kemanfaatan dari sebuah impian. Dan aku akan mencoba membangun impian dari impian. Membangun impian agar dimasa depan jauh lebih baik dari masa sekarang.
Saat kutulis semua pengalaman hidupku ini, aku sempat menyiapkan beberapa judul. Hampir setiap judul memiliki makna  dan pengaruh yang sangat dalam bagi jiwaku. Namun, sungguh…terlalu banyak dan terlalu luas hikmah dan pelajaran yang dapat aku petik dari beragam pengalaman hidupku, dibanding sekedar beberapa judul yang telah aku siapkan. Sehingga, justru aku putuskan untuk memberi judul tulisanku ini, dengan sebuah judul……………………………………..……………….TANPA  JUDUL.

Syahidah Peduli ( Seri Pemberdayaan Perempuan )

0 comments:

Post a Comment